Sabtu, 12 November 2011

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PRODUKSI AIR SUSU

FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PRODUKSI AIR SUSU



 









SUAEMANSYAH
0907105026




FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS UDAYANA



PENDAHULUAN

Susu adalah cairan bergizi berwarna putih yang dihasilkan oleh kelenjar susu mamalia betina. Susu adalah sumber gizi utama bagi bayi sebelum mereka dapat mencerna makanan padat. Susu binatang (biasanya sapi) juga diolah menjadi berbagai produk seperti mentega, yogurt, es krim, keju, susu kental manis, susu bubuk dan lain-lainnya untuk konsumsi manusia.
Dewasa ini, susu memiliki banyak fungsi dan manfaat. Untuk umur produktif, susu membantu pertumbuhan mereka Sementara itu, untuk orang lanjut usia, susu membantu menopang tulang agar tidak keropos. Susu mengandung banyak vitamin dan protein. Oleh karena itu, setiap orang dianjurkan minum susu. Sekarang banyak susu yang dikemas dalam bentuk yang unik. Tujuan dari ini agar orang tertarik untuk membeli dan minum susu. Ada juga susu yang berbentuk fermentasi.

Syarat susu yang baik
Saat masih berada di dalam kelenjar susu, susu dinyatakan steril. Namun, apabila sudah terkena udara, susu sudah tidak bisa dijamin kesterilannya. Adapun syarat susu yang baik meliputi banyak faktor, seperti warna, rasa, bau, berat jenis, kekentalan, titik beku, titik didih, dan tingkat keasaman.
Warna susu bergantung pada beberapa faktor seperti jenis ternak dan pakannya. Warna susu normal biasanya berkisar dari putih kebiruan hingga kuning keemasan. Warna putihnya merupakan hasil dispersi cahaya dari butiran-butiran lemak, protein, dan mineral yang ada di dalam susu. Lemak dan beta karoten yang larut menciptakan warna kuning, sedangkan apabila kandungan lemak dalam susu diambil, warna biru akan muncul.
Susu terasa sedikit manis dan asin (gurih) yang disebabkan adanya kandungan gula laktosa dan garam mineral di dalam susu. Rasa susu sendiri mudah sekali berubah bila terkena benda-benda tertentu, misalnya makanan ternak penghasil susu, kerja enzim dalam tubuh ternak, bahkan wadah tempat menampung susu yang dihasilkan nantinya. Bau susu umumnya sedap, namun juga sangat mudah berubah bila terkena faktor di atas.
Berat jenis air susu adalah 1,028 kg/L. Penetapan berat jenis susu harus dilakukan 3 jam setelah susu diperah, sebab berat jenis ini dapat berubah, dipengaruhi oleh perubahan kondisi lemak susu ataupun karena gas di dalam susu. Viskositas susu biasanya berkisar antara 1,5 sampai 2 cP, yang dipengaruhi oleh bahan padat susu, lemak, serta temperatur susu.
Titik beku susu di Indonesia adalah -0,520 °C, sedangkan titik didihnya adalah 100,16 °C. Titik didih dan titik beku ini akan mengalami perubahan apabila dilakukan pemalsuan susu dengan penambahan air yang terlalu banyak karena titik didih dan titik beku air yang berbeda.
Susu segar mempunyai sifat amfoter, artinya dapat berada di antara sifat asam dan sifat basa. Secara alami pH susu segar berkisar 6,5–6,7. Bila pH susu lebih rendah dari 6,5, berarti terdapat kolostrum ataupun aktivitas bakteri.




PEMBAHASAN

Variasi produksi susu harian pada dasarnya disebabkan oleh variasi genetik danvariasi nongenetik. Untuk memperbaiki mutu genetik ternak diperlukan usaha memperkecilvariasi nongenetik sehingga variasi produksi susu harian betul betul karena variasigenetiknya. Salah satu jalan untuk memperkecil variasi non-genetik adalah denganmelakukan koreksi terhadap catatan produksi susu dari pengaruh lingkungan. Kecermatanseleksi dapat ditingkatkan melalui penyesuaian atau koreksi terhadap faktorfaktor lingkungan atau yang mempengaruhi produksi susu, terutamanya adalah faktor umur beranak pertama dan umur induk (Sargent dkk.,1967; Gacula dkk., 1968).Bath dkk. (1985) menyatakan, bahwa catatan produksi susu harus dibuat dalam basisbaku bila ingin membandingkan keunggulan individu sapi perah. Umumnya basis baku yangdigunakan adalah catatan produksi susu 305 hari, dua kali pemerahan dan umur setaradewasa.Susu sapi ada lah cairan colostrums berwarna putih, dan disekresi pada kelenjar susumamalia, dalam hal ini adalah sapi yang sehat. Produksi harianya (kuantitas) dipengaruhioleh beberapa faktog fisiologi dan lingkungan.

v  Faktor fisiologi yang mempengaruhi kuantitassusu antara lain (Cole, 1964).
·         Laktasi
Periode sapi memproduksi susu disebut laktasi. Periode ini dimulai dengansetiap ekor sapi sapi melahirkan. Pada awal laktasi, ambing yang dihasilkan sapi disebutcolostrums. Tepatnya lima hari setelah melahirkan, produksi tersebut baru dapat dikatakansusu. Normalnya, produksi susu harian meningkatkan pada empat sampai enam minggusetelah kelahiran, kemudian menurun secara perlahan sampai sapi mengalami masa kering.
·         Usia
Seiring berjalanya waktu, produksi susu sapi terus meningkat, hingga mencapaipuncaknya pada usia matang (6 sampai 8 tahun). Setelah usia ini, produksi mulai menurun.Namun, proses penurunan ini tidak secepat proses peningkatan produksi susu.
·         Keturunan
Terdapat mekanisme fisiologis yang mempengaruhi kuantitas dan kualitassusu, yang disebut juga factor genetik.

v  Sementara faktor lingkungan yang mempengaruhi produksi susu harian adalah:

·         Periode kering
Waktu jeda antara laktasi mempengaruhi produksi pada saat laktasiberikutnya. Periode kering yang singkat membuat sapi tidak berkesempatan membanguncadangan tubuh untuk menghadapi pemerahan pada laktasi berikutnya. Sebaliknya, periodekering yang panjang akan mempersingkat durasi produksi. Periode kering yang optimaladalah 60 hari.

·         Suhu
Sapi mengalami tingkat efisiensi produksi pada suhu sekita 50 derajat F. Saatsuhu mencapai 80 derajat F, rata-rata sapi mengalami penurunan produksi, yangberimplikasi pada meningkatnya kadar lemak pada susu sapi.

·         Pakan
Pada awal laktasi, sapi membutuhkan pakan yang cukup untuk pertumbuhan,sekaligus untuk produksi susunya. Pada laktasi berikutnya, pakan lebih banyak lagi diperlukan baik untuk produksi susu, maupun ketahanan tubuh.


Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi Susu Selama Masa Laktasi

Selama masa laktasi berlangsung, baik produksi susu masa laktasi pertama dan selanjutnya sangat dipengaruhi oleh berbagai factor antara lain oleh factor genetis, makanan, tata laksana yang satu sama lain saling mempengaruhi dan menunjang.

·         Faktor Genetis
Faktor genetis ini bersifat individual, yang diturunkan dari induk dan bapak kepada keturunannya. Faktor genetis ini bersifat baka, artinya sifat-sifat baik dan buruk dari tetua akan diwariskan kepada keturunan berikutnya dengan sifat-sifat yang sama seperti sifat-sifat yang dimiliki tetua.
Faktor genetis ini akan menentukan jumlah produksi dan mutu air susu selama laktasi dengan komposisi zat-zat makanan tertentu sesuai dengan yang dimiliki oleh kedua induknya. Jika produksi susu induk dan pejantan jelek maka dengan tata laksana dan makanan yang serba baguspun tidak akan dapat memperbaiki produksi yang jelek dari warisan kedua induknya.
·         Faktor Makanan
Sapi-sapi yang secara genetis baik akan memberikan produksi susu yang baik pula. Akan tetapi, jika makanan yang diberikan tidak memadai, baik dari segi jumlah maupun mutu, maka unutk memenuhi kebuthan pokok hidup dan berproduksi akan dicukupi dengan mengorbankan persediaan zat-zat makanan yang ada di dalam tubuh dengan cara memobilisasikan zat-zat makanan yang tersimpan di dalam jaringan tubuh mereka.
Jika sapi yang bersangkutan kehabisan zat-zat makanan yang harus dimobilisasikan, mka produksi susu akan menurun yang akhirnya akan membatasi pula sekresi air susu.
·         Faktor Tatalaksana
Tatalaksana yangt baik dan sempurna merupakan salah satu upaya untuk mencapai kesuksesan usaha ternak sapi perah. Mengandalkan factor genetis saja tidaklah menjamin keberhasilan produksi. Sebab factor genetis yang baik bukan jaminan terhadap jumlah produksi. Faktor genetis yang baik harus didukung dengan tatalaksan yang baik dan teratur. Tatalaksana pada masa laktasi yang perlu diperhatikan antra lain rangsangan pemerahan, pengaturan kering kandang,pencegahan penyakit, frekuensi pemerahan, pengaturan kelahiran dan perkawinan (service periode dan calving interval).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar